Calon Arsitek

itung-itung make nitrous biar cepet jadi Arsitek

Karya Arsitektur Harus Sering Dikomunikasikan (artikel popo danes)

Villa Sanur Popo Danes - 1

Karya arsitektur harusnya sering dikomunikasikan, sehingga seorang arsitek harus bisa menerima keritikan dengan baik, tanpa itu maka hasil karya tidak akan pernah memuaskan. “Mungkin banyak orang yang menilai saya sebagai seorang arsitek yang eksibisionis, yang paling sering memamerkan karya-karya arsitektur. Buat saya tuduhan itu saya terima dengan baik, karena memang sesungguhnya karya arsitektur harus dikomunikasikan,” katanya.

Menurut Popo, arsitektur adalah suatu proses desain yang merupakan interprestasi dari fungsi, teknologi, serta lingkungannya. “Harus disadari sebuah karya arsitektur akan melewati satu proses yang dipengaruhi oleh begitu banyak aspek, karena memang arsitektur bukan hanya sebuah kemampuan dalam merancang satu buah bentuk tiga dimensi, tapi ada begitu banyak disiplin ilmu yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung,” kata laki-laki kelahiran 6 Februari 1964 yang telah melang-lang beberapa negara sebagai konsultan arsitektur ini.

Popo mengkritisi perguruan tinggi yang memiliki jurusan atau program studi arsitektur di Indonesia yang banyak menghasilkan sarjana arsitektur tetapi kebanyakan belum siap dalam menghadapi dunia kerja yang sebenarnya. Itu terjadi, katanya menjelaskan, karena visi pendidikan yang ada tidak berinterelasi dengan situasi profesional praktis. “Rendahnya kemampuan komunikasi serta tingginya ego menjadi salah satu kendala yang dapat menghambat peningkatan kompetensi lulusan arsitektur sekarang,” katanya.

Dibagian lain pernyataannya, arsitek yang mendapatkan penghargaan ASEAN Energy Awrad 2004 for Tropical Building Category ini juga menyinggung tentang kemungkinan kalah bersaingnya para arsitektur lokal yang ada di Indonesia dengan mereka yang berasal dari luar. “Di Bali, kini sudah banyak orang-orang bule yang menguasai arsitektur Bali, dan ternyata bukan hanya itu, para bule itu juga kini menjadi penjual-penjual lahan yang sudah siap dengan berbagai alternatif desain berarsitektur Bali. Di sana kini yang menguasai adalah para arsitek-arsitek asing,” katanya.

Karena itu, kata Popo menambahkan dirinya sesungguhnya merasa sangat prihatin jika ada arsitek kita yang tidak mau mengembangkan potensi arsitektur lokal yang ada. “Saya telah membuktikan arsitrktur lokal dalam hal ini arsitektur Bali telah mampu bersaing dengan desain-desain arsitektur negara lain. Tinggal bagaimana kita bisa menunjukkan dan mengemasnya,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya, Popo Danes mengungkapkan beberapa hal mendasar yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan profesionalisme para arsitek, diantaranya dibutuhkannya pemahaman yang luas dari arsitektur berwawasan kebudayaan, kemampuan untuk menjelaskan dan membahasakan berbagai aspek terkait dari arsitektur cultural maupun tropis yang dijadikan bahasan, termasuk segi filosofis, material, komersial, dan lainnya. “Ini penting, karena itu arsitek Indonesia harus secara terbuka dan jujur mengevaluasi semua ketertinggalannya,” katanya.

4 Tanggapan to “Karya Arsitektur Harus Sering Dikomunikasikan (artikel popo danes)”

  1. saya sebagai putra daerah melayu sangat terharu dengan pembicaran bapak popo denis. yang sangat peduli dengan perkem bangangan bangsa umumnya, para arsitek khususnya. saya ingin berpesan tanpa ada dukungaan yg tulus dari pemerintah cita-cita kita sangat lambat berkembang

  2. adhimastra said

    Keprihatinan Popo sangat beralasan (Rendahnya kemampuan komunikasi). Utamanya PT (baik PTN/PTS) sangat jarang berkomunikasi dalam konteks karyanya. Mungkin untuk memotivasi kearah itu, selain peran pemerintah jg perlu adanya kontak antara dosen maupun mhs di antara PTN/PTS yg ada di Bali khususnya. Hanya saja wadah untuk itu perlu dipikirkan … Walau kita tahu di Bali sdh ada IAI Bali yg seringkali berusaha untuk mem-vasilitasi komunikasi ini dlm forum-forum formal, namun sayangnya respon dr yg diundang untuk itu belum maksimal. Terimakasih buat popo, kritikan ini patut terus digaungkan

  3. adi luring said

    Menurut saya seseorang dapat menjadi profesional di bidangnya termasuk seorang arsitek, apabila setelah melewati berbagai macam tantangan dan pengalaman yang selalu menguji kemampuannya, kemudian mampu tampil sebagai maestro dengan karya-karya masterpiece-nya. Kemudian karya-karya tersebut dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk penciptaan karya-karya baru yang lainnya..Sehingga tanpa komunikasi dan “memamerkan” pada khalayak yang luas, karya tersebut sulit diketahui bahkan mungkin tidak dikenal, dan bagaimana karya tersebut dapat teruji dalam tantangan dan pengalaman yang menjadi guru yang terbaik.. Semoga kita cukup berani untuk menjadi seseorang yang tahan uji, menjalani proses dan tampil sebagai juara dalam profesi dan prestasi yang kita tekuni..

  4. saya setuju dengan pendapat popo danes diatas bahwasanya arsitek” muda bali sekarang ini harus mampu mengembang kemampuanya baik dari segi komunikasi arsitekturnya harus terus ditingkatkan supaya arsitektur tradisional bali menjadi icon pariwisata bali khususnya atau icon indonesia itu sendiri. Menyambung pernyataan popo td sekarang sdh banyak arsitek asing merancang berbagai alternatif arsitektur bali dengan berbagai bentuk konsep maka dari itu Universitas Dwijendra fakultas teknik arsitektur tradisional bali harus bisa menjadi PTS pelopor ATB DENGAN lulusan arsitek muda yg memegang teguh tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian,pengembangan,&penelitian yg trus menerus menggembang ATB tp tetap bepedoman pada asta kosala kosali,tri mandala,Dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: