Calon Arsitek

itung-itung make nitrous biar cepet jadi Arsitek

monumen kapal selam surabaya – redesign

Posted by calonarsitek pada Maret 15, 2009

Tugas Perancangan Arsitektur V

Rapaharya N Hamisena (3202100043)

Jurusan Arsitektur ITS

Pembingbing : Prof. DR. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch

Sem. Ganjil TA 2008/2009

entrance monumen kapal selam

entrance monumen kapal selam

definisi :

Proyek ini adalah mendesain ulang monumen kapal selam surabaya.

Dalam proses desainnya, Museum, Cafetaria, dan kios oleh oleh tetap dipertahankan. Penambahannya ada pada fasilitas kelas, dan auditorium serta fasilitas mekanikal elektrikal yang lebih disesuaikan dengan program ruang yang baru.

gbr-kerja

tema yang dipakai adalah simbiosis (eksterior-interior & kapal selam utuh – terbelah)

konsep desain

konsep desain

Kapal selam (KRI Pasopati) dan bentuk kapal selam terbelah yang menyelubungi sengaja ditinggikan untuk menambah kesan monumental dari bangunan ini.

ruang transisi eksterior-interior

ruang transisi eksterior-interior

Ruang transisi sebagai ciri utama tema simbiosisnya, pada lantai 1 difungsikan sebagai selasar entrance ke dalam bangunan utama, sedangkan pada lantai 2 dapat dinikmati sebagai ruang cafetaria.

tampak barat

tampak barat


tampak selatan

tampak selatan


tampak timur

tampak timur


tampak utara

tampak utara


interior galeri kecil

interior galeri kecil


interior galeri temporer

interior galeri temporer


perpektif (dari jln. pemuda)

perpektif (dari jln. pemuda)


perspektif mata normal

perspektif mata normal


perspektif mata burung

perspektif mata burung

Iklan

Posted in karya rancang, rendering | 2 Comments »

METAFORA (definisi dalam arsitektur)

Posted by calonarsitek pada Oktober 22, 2008

Metafora mengidentifikasikan hubungan antara benda dimana hubungan tersebut lebih bersifat abstrak daripada nyata serta mengidentifikasikan pola hubungan sejajar. Dengan metafora seorang perancang dapat berkreasi dan bermain-main dengan imajinasinya untuk diwujudkan dalam bentuk karya  arsitektur.

 

Metafora dapat mendorong arsitek untuk memeriksa sekumpulan pertanyaan yang muncul dari tema rancangan dan seiring dengan timbulnya interpretasi baru. Karya –karya arsitektur dari arsitek terkenal yang menggunakan metoda rancang metafora,hasil karyanya cenderung mempunyai langgam Postmodern.

 

Pengertian metafora secara umum berdasarkan Oxford Learner’s Dictionary :

§     A figure of speech denoting by a word or phrase usually one kind of object or idea in place of another to suggest a likeness between them

§     A figure of speech in which a term is transferred from the object it ordinarily designates to on object it may designate only by implicit comparison or analogies

§     A figure of speech in which a name or quality is attributed to something to which it is not literally applicable

§     The use of words to indicate something different from the literal meaning

 

Menurut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture”

Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam pembahasan. Dengan kata lain             menerangkan suatu subyek dengan subyek lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.

            Ada tiga kategori dari metafora

§     intangible Metaphor (metafora yang tidak diraba)

yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep,     sebuah ide, kondisi manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya)

§     Tangible Metaphors (metafora yang dapat diraba)

Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material

§     Combined Metaphors (penggabungan antara keduanya)

Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai    unsur-unsur awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk     mendapatkan kebaikan kualitas dan dasar.

 

Menurut James C. Snyder, dan Anthony J. Cattanese dalam “Introduction of Architecture”

Metafora mengidentifikasikan pola-pola yang mungkin terjadi dari hubungan-hubungan paralel dengan melihat keabstrakannya, berbeda dengan analogi yang melihat secara literal

 

Menurut Charles Jenks, dalam ”The Language of Post Modern Architecture”

Metafora sebagai kode yang ditangkap pada suatu saat oleh pengamat dari suatu obyek dengan mengandalkan obyek lain dan bagaimana melihat suatu bangunan sebagai suatu yang lain karena adanya kemiripan.

 

Menurut Geoffrey Broadbent, 1995 dalam buku “Design in Architecture”

Transforming : figure of speech in which a name of description term is transferred to some object different from. Dan juga menurutnya pada metafora pada arsitektur adalah merupakan salah satu metod kreatifitas yang ada dalam desain spektrum perancang.

 

 

Posted in teori arsitektur | 12 Comments »

beda urban dan kota (khususnya di indonesia)

Posted by calonarsitek pada Februari 20, 2008

dikutip dari :
http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=748431&p=1
TS : om Alva

Sekarang, ke “Urban”…
seperti yang saya tulis di atas, sangat disayangkan kalau urban itu hanya dijadikan sebagai sebuah setting.
saya sendiri tidak bisa memberikan referensi soal urban, tapi saya akan berikan my personal thoughts on urban, berhubung saya arsitek yang sering baca – baca soal urban.
istilah urban itu muncul di peradaban “barat”, kurang lebih muncul di kongres urban planning di Harvard Design School tahun 60-an. Di Indonesia sendiri, urban itu kayaknya kurang cocok (i’ll get back to that later).
Urban muncul dari keinginan segelintir orang yang ingin menyatukan Architecture, Landscape, dan City Planning. Sebelum kongres ini, yang ada hanyalah City/kota atau village/desa, tidak ada urban, suburban, atau rural.

Urban sendiri bisa dipahami sebagai sebuah kondisi gaya hidup yang serba cepat, profit oriented, full with 9-to-5-workaholic-people, tight rules, etc.
di Indonesia, urban tidaklah seperti yang ada di “barat” sana. Kondisi urban di New York (misalnya), sangat jauh dengan kondisi urban Manado (misalnya). Kondisi urban kota besar seperti New York sudah memiliki ciri – ciri yang sangat kuat (very distinctive), beda dengan kondisi urban Manado yang masyarakatnya masih membawa ciri – ciri kampung/desa (slow pace, high tolerance, etc) dalam kehidupan sehari – hari.
Jadi walaupun dua – duanya City/Kota, tapi dalam kondisi Urbannya, mereka sangat jauh berbeda.
Tapi yang unik, di Indonesia, ada desa/kampung yang memiliki kondisi Urban yang sama kuat dengan kota. Bisa terlihat dari gaya hidup yang sudah sangat menyerupai kota, walaupun ukuran, dan letak kampung yang jauh dari kota.

kemudian ada juga namanya Suburban…
sekarang di “barat” lagi berkembang yang namanya Edge-City, dimana daerah – daerah yang dulunya SubUrban (tempat pekerja – pekerja Urban tinggal), justru menjadi sebuah kota mandiri yang jauh lebih berkembang dari Core-City nya. Dan istilah suburban sendiri sudah mulai ditinggalkan karena hal ini.
Di paris pernah terjadi kekacauan karena kondisi suburban yang terlalu menjurang dengan kondisi urban nya.
di Indonesia kayaknya belum banyak yang seperti ini.

dikutip dari perkuliahan di kampus :
Kota adalah suatu wilayah yang sebagian besar penduduknya telah meninggalkan cara hidup dengan bercocok-tanam

Posted in artikel arsitektur, prakata | 3 Comments »

KLASIFIKASI & CIRI-CIRI : ARSITEKTUR MODERN, PASCA MODERN & PURNA MODERN (CHARLES JENCKS)

Posted by calonarsitek pada Januari 17, 2008

No.

Modern (1920-1960)

Late Modern (1960-  )

Post Modern (1960- )

I

 

 

D

 

 

 

E

 

 

 

O

 

 

 

L

 

 

 

O

 

 

 

G

 

 

 

I

 

 

 

C

 

 

 

A

 

 

 

L

1 One International Style, or ‘no style’ :

  • Bnetuk Model sama dimanapun berada
  • Tanpa langgam / gaya
Unconscions Style :

  • Secara tidak sadar telah memakai langgam / gaya.
Double-coding of Style :

  • Menggabungkan unsur-unsur modern dengan unsur lain (vernacular, local, komersial, konstektual), juga berarti memperhatikan nilai-nilai yang dianut arsitek dan penghuni atau masyarakat awam
2 Utopian and Idealist :

  • Arsitek seakan-akan melaksanakan impiannya memperbaiki realita dan cenderung bersifat memaksakan.
Pragmatic :

  • Setiap bangunan didirikan untuk tujuan tertentu.
  • Tiap bangunan mempunyaiciri khasnya masing-masing.
  • Bangunan setujuan mempunyai kemiripan satu sama lain
Popular and Popularist:

  • Tidak terikat oleh aturan atau kaidah tertentu, tetapi mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
3 Deterministic form, fungtional /D.F.F :

  • Syarat utama dari bangunan adalah bangunan mencapai kegunaaan yang semaksimal mungkin.
  • Ruang – ruang yang direncanakan sesuai dengan fungsinya.
  • Bangunan tidak harus berdiri dari kepala, badan dan kaki.
Loose Fit :

  • Bentuk yang ditampilkan tidak sesuai dengan fungsi atau kehilangan kecocokannya dengan fungsi.
Semiotic Form :

  • Bentuk yang ada mempunyai tanda makna dan tujuan sehingga penampilannya sangat mudah dipahami.
4 Zeitgeist :

  • Berlatar balakang logika dan keilmuan.
Late – Capitalist :

  • Berlatar belakang efisiensi dan keuntungan.
Tradition and Choice :

  • Bentukan yang ada mengandung unsure-unsur atau nilai-nilai tradisi yang penerapannya secara terpilih, atau disesuaikan dengan maksud dan tujuan perancang.
5 Artist as Prophet/healer :

  • Arsitek mendudukkan diri sebagai yang maha tahu.
Suppressed Artist :

  • Arsitek merasa dibatasi / tertekan dan terpaksa untuk memunculkan kreatifitasnya.
Artist / Client :

  • Arsitektur mengandung dua hal pokok yang menjadi tuntutan perancang. Bersifat seni (intern) dan bersifat umum (ekstern) sehingga mudah dipahami.
6 Elitst / ‘for every man’ :

  • Arsitekturnya lebih menonjolkan sikap eksklusif perancangnya yang tumbuh dari keinginan bersama.
Elitist Profesional :

  • Arsitekturnya lebih menonjolkan sikap eksklusif perancangnya saja.
Elitist and Participative

  • Arsitekturnya lenih menonjolkan kebersamaan serta mengurangi sikap keangkuhan.
7 Wholistic, comprehensive redevelopment :

  • Adanya pemahaman yang menyeluruh dan saling mendukung antar elemen-elemen pembentuk arsitektur.
Wholistic :

  • Adanya kesatuan antar unsure-unsur pembentuknya.
Piecemeal :

  • Adanya penerapan unsur-unsur dasar seperti history, vernacular, lokasi, dll
8 Architect as savior/doctor :

  • arsitek menempatkan dirinya sebagai penyelamat/penyembuh dari segala permasalahan arsitektur dan yang mempunyai banyak gudang ide.
Architect provides service :

  • Arsitek menempatkan dirinya sebagai pelayan aau penerjemah ide
Architect as representative and activist :

  • Arsitek berfungsi sebagai wakil penerjemah ide kepada perencana dan secara aktif berperan serta dalam perancangan

Sumber : Charles Jencks – Vision of the Modern -UIA

Posted in teori arsitektur | 23 Comments »

Hakikat (definisi) Tema dalam Arsitektur

Posted by calonarsitek pada Januari 17, 2008

Merancang dengan tema berarti mengusulkan salah satu kemungkinan perwujudan dari gagasan (Ir. Josef Prijotomo, M. Arch, dosen Arsitektur ITS)

Menurut Gunawan Tjahyono, “Tema dalam arti purbanya lebih merupakan pijakan bagi sebuah tajuk. Dari situlah kita yang terlibat dalam kehadirannya berangkat untuk melakukan bahasan, ulasan, dan tindakan (intelektual). Dengan demikian, tema melandaskan seluruh olahan berkarya dan tindakan intelektual atau seni. Dari contoh yang sama, dalam bidang arsitektur, tema dapat melandasi tindakan berarsitektur.” ( Kilas Jurnal FTUI, Januari 2000, volume 2 nomor 1, halaman 79 ) 

Skema pemahaman latar belakang tema dalam perancangan

Arsitektur adalah dunia yang tidak bisa dilepaskan dari tema, karena dengan tema itulah kehadirannya dapat lebih bermakna. Lebih daripada itu arsitektur adalah dunia yang di dalamnya terdapat semangat untuk teru mencari sesuatu yang baru dan semangat untuk mencari jawaban.” ( AMI – Arsitek Muda Indonesia, Penjelajahan 1990 – 1995, Subur, Jakarta, 1995 ). 

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, tema adalah :

§  Pokok pikiran, dasar cerita ( yang dipercakapkan ) dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak, dan lain – lain.

§  Bertema, berarti mempunyai tema.

§  Bertemakan, berarti berlandaskan tema. 

Tema berasal dari bahasa Yunani yaitu Tithenai yang berarti meletakkan, dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan Theme yang selanjutnya kita kenal dengan istilah tema yang memiliki arti apa yang diletakkan, dinyatakan dan memposisikan sesuatu.

Tema terbagi dalam 2 golongan besar, yaitu :

§  Dari unsur teraga, nyata (seperti tema tentang flora, tema hutan, tema fauna dan lain-lain).

§  Dari unsur tak teraga, abstrak (seperti tema kemanusiaan, tema budaya, dan lain-lain). 

Posted in prakata, teori arsitektur | 5 Comments »

Perancangan Ruang Luar – Jln. Samudra Surabaya

Posted by calonarsitek pada Desember 21, 2007

Tugas Perancangan Ruang Luar

Jurusan Arsitektur

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Surabaya

2 0 0 7

slide 01 slide 02 slide 03

slide 04 slide 05 slide 06

slide 07 slide 08 slide 09

slide 10 slide 11 slide 12

slide 13 slide 14 slide 15

slide 16 slide 17 slide 18

slide 19 slide 20 slide 21

slide 22 slide 23 slide 24

slide 25 slide 26 slide 27

email : wish_q@yahoo.co.id

Kalo mo ambil gambarnya tinggal klik kanan trus pilih save target as ya..

tq..

Posted in karya rancang | 3 Comments »

KONTRADIKSI (definisi)

Posted by calonarsitek pada November 22, 2007

  • Kamus Inggris-Indonesia karangan Jhon M.Echols dan Hassan Shadily: Contradiction : kontradiksi; pembantahan; penyangkalan; pertentangan.

  • ‘Grolier Webster International Dictionary’ Contradiction : tingkah atau prilaku kontradiktif; penolakan pada sesuatu yang dibandingkan; berkurangnya keharmonian antar elemen .

  • Robert Venturi dalam bukunya ‘Complexity and Contradiction membahas lebih jauh mengenai  kontradiksi. Ia menyebutkan bahwa dengan karya arsitektur yang elemen-elemennya saling bertentangan akan membuahkan suatu karya yang sama menariknya dengan suatu karya yang elemen-elemennya tidak saling bertentangan.

Posted in teori arsitektur | Leave a Comment »

Teori Fungsi – Christian Norberg Schulz

Posted by calonarsitek pada November 22, 2007

  • Physical Control

Suatu bangunan mempunyai kontrol buatan untuk memberikan kesan nyaman pada aktifitas yang dinaunginya.

  • Functional Frame

Sebuah bangunan atau ruangan dibedakan dari aktivitas yang terjadi didalamnya.

  • Social Milieu

Suatu bangunan atau ruangan mampu memberikan kesan satu kesatuan yang utuh dengan bangunan atau ruangan lainnya.

  • Cultural Symbolization

Suatu bangunan harus mampu berarti sesuatu. Atau dengan kata lain mampu mempunyai fungsi sebagai simbol.

Posted in teori arsitektur | Leave a Comment »

Prinsip Perancangan Simbolisme – Egon Schirmbeck

Posted by calonarsitek pada November 22, 2007

Menurut  Egon Schirmbeck  dalam buku Form, Idea and Architecture ,  prinsip-prinsip perancangan simbolisme dalam arsitektur adalah sebagai berikut :

  1. Penciptaan urut-urutan ruang yang berbeda guna mengingatkan orang pada ‘tempat’ sambil orang berjalan melalui ruang.Karakteristik arsitektural :Kombinasi dari unit-unit denah yang sama atau serupa dalam pengaturan yang beda. Pengorganisasian ruang-ruang sempit (jalan dan jalan kecil) dengan ruang-ruang lebar (lapangan).
  2. Pencampuran fungsi-fungsi yang berbeda guna meningkatkan kontak sosial, berbeda dengan pemisahan akan fungsi oleh gerakan modern di tahun 1920an dan 1930an. Karakteristik arsitektural :Pengaturan tata guna yang berbeda dalam batas sebuah bangunan dan perhubungan langsung dari zona-zona ini – contohnya di sepanjang suatu jaringan jalan public.
  3. Arsitektur sebagai media komunikasi. Penerimaan Arsitektur melalui banyak lapisan. Arsitektur sebagai pembawa simbolisme dan informasi.Karakteristik arsitektural :Perlengkapan akan kebutuhan fungsional, structural dan lainnya untuk  penggunaan khusus oleh elemen-elemen ikonografik, metaforik dan elemen-elemen yang berhubungan.
  4. Penekananan pada ‘artifisialitas’ dari arsitektur. Pemisahan dari kawasan lahan alamiah dan volume ruang buatan. Pemisahan ruang luar alamiah dari ‘ruang interior buatan’.Karakteristik arsitektural :Pembatasan  terhadap elemen-elemen rancangan geometris yang jelas dan lazim menonjolkan mutu sintetik dari arsitektur pada suatu kawasan lahan.
  5. Rancangan bentuk dari suatu ruang sesuai dengan mutu ‘dasar’nya – contoh : merancang ruang menurut bayangan yang terbentuk oleh bangunan dan mengorientasikan bangunan sesuai dengan arah angin.Karakteristik arsitektural :Alokasi dan orientasi dari elemen-elemen suatu ruang sesuai dengan kondisi-kondisi sosial dan fisik yang ditentukan.
  6. Pembedaan  dan penentuan dari identitas suatu ruang melalui penerangan (alami). Karakteristik arsitektural :Alokasi yang tegas dari zona-zona gelap dan terang atau elemen-elemen ruang pada denah dan potongan.
  7. Peralihan langsung dari satu volume ke volume yang lain. Integrasi dari ruang-ruang interior dan eksterior. Karakteristik arsitektural :Penciptaan zona-zona ruang yang ‘mengalir’ dan pengaturan yang bebas (dari kolom dan dinding) pada elemen yang mengikat ruang.
  8. Pemisahan muka bangunan dan badan bangunan (ruang). Muka bangunan sebagai suatu sumber informasi ‘dua dimensi’, bebas dari kelompok ruang.Karakteristik arsitektural :Zona ruang dan daerah lantai adalah bebas dari kebutuhan formalnya sendiri dan dari ‘muka bangunan utama’ tempelan.
  9. Pertalian ruang atau bangunan melalui suatu ‘rantai kejadian’, sebagai suatu pengingat akan ‘tempat’ dan pengenalan akan karakteristik ruang yang khas.Karakteristik arsitektural :Urut-urutan artifak yang khas berbeda untuk menegaskan ruang. Urut-urutan bentuk ruang atau perbatasan ruang yang khusus berbeda.

Posted in teori arsitektur | 4 Comments »

SIMBOLISME (definisi)

Posted by calonarsitek pada November 21, 2007

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Simbol (kata benda)    : lambang

Simbolik (adjektif)      : sebagai lambang, menjadi lambang, mengetahui lambang.

Simbolisme                  : perihal pemakaian simbol (lambang) untuk mengekspresikan ide-ide.

Menurut Kamus Webster :

Symbol :

  • simbol merupakan sebuah obyek yang berfungsi sebagai sarana untuk mempresentasikan sesuatu hal yang bersifat abstrak, misalnya burung merpati sebagai simbol kedamaian.
  • simbol merupakan sebuah tanda, isi yang singkat, menyertai sifat sebuah obyek, proses berkualitas, kuantitas, memenuhi muatan- muatan tertentu misalnya simbol pada konteks bidang musik, kimia, matematik dan lain-lain.

Symbolic :

  • of or expressed is a symbol as simbols
  • that serves as a symbol (of something)
  • using symbolism

Symbolism :

  • the representation of things by use of symbols, especially an art or literature 
  • a system symbols 
  • symbolic meaning

Menurut P. Gauguin and O Redon, Ensiklopedia VI hal. 3178 :

Simbolisme adalah gerakan baru dalam seni. Dalam hal ini seni lukis sebagai reaksi terhadap gerakan naturalisme, dimana gerakan naturalis mengutamakan gerakan yang sewajarnya atau sesuai dengan hal-hal yang nyata. Seseorang tidak usah melukiskan kenyataan secara seksama (naturalis) dan setiap warna, bentuk, maupun garis tetapi dapat menimbulkan berbagai perasaan atau makna simbolis.

Menurut Charles Sanders Peirce (Teori Trikonomi Semiotika Arsitektural):

Simbol merupakan tanda yang hadir karena mempunyai hubungan yang sudah disepakati bersama atau sudah memiliki perjanjian (arbitrary relation) antara penanda dan petanda.

Dalam Meaning and Behavior in the Built Environment, Charles membagi sign menjadi 3, yaitu :

  • Iconic sign. Sign yang mengingatkan kita pada obyeknya melalui beberapa macam persamaan yang kompleks.Contoh : stan yang menjual hot dog mempunyai bentuk seperti hot dog. 
  • Indexial sign. Sign yang menunjukkan pada obyak tertentu dalam hal fisik, maknanya dapat dibaca tanpa symbol pengetahuan budaya. Terdapat hubungan yang eksis antara signifier (symbol) denngan signified (konsep).Contoh : jendela berarti mempunyai fungsi untuk melihat view. 
  • Symbol. Sign yang dipelajari sebagai makna sesuatu dalam konteks budaya tertentu. 

Sedangkan  dalam Sign, Symbol and Architecture, Charles Sanders Peirce menjelaskan :Symbol adalah suatu tanda atau gambar yang mengingatkan kita kepada penyerupaan benda yang kompleks yang diartikan sebagai sesuatu yang dipelajari dalam konteks budaya yang lebih spesifik atau lebih khusus.

Menurut DR. Ir. Galih Widjil Pangarsa Arsitektur Simbolisme merupakan arsitektur yang sekedar mengejar kenikmatan panggung status sosial dengan menempelkan simbol-simbol baru pada zamannya dimana tidak jarang merupakan kegiatan plagiatisme.

Posted in teori arsitektur | 11 Comments »