Calon Arsitek

itung-itung make nitrous biar cepet jadi Arsitek

Arsip untuk Januari 17th, 2008

KLASIFIKASI & CIRI-CIRI : ARSITEKTUR MODERN, PASCA MODERN & PURNA MODERN (CHARLES JENCKS)

Ditulis oleh calonarsitek di/pada Januari 17, 2008

No.

Modern (1920-1960)

Late Modern (1960-  )

Post Modern (1960- )

I

 

 

D

 

 

 

E

 

 

 

O

 

 

 

L

 

 

 

O

 

 

 

G

 

 

 

I

 

 

 

C

 

 

 

A

 

 

 

L

1 One International Style, or ‘no style’ :

  • Bnetuk Model sama dimanapun berada
  • Tanpa langgam / gaya
Unconscions Style :

  • Secara tidak sadar telah memakai langgam / gaya.
Double-coding of Style :

  • Menggabungkan unsur-unsur modern dengan unsur lain (vernacular, local, komersial, konstektual), juga berarti memperhatikan nilai-nilai yang dianut arsitek dan penghuni atau masyarakat awam
2 Utopian and Idealist :

  • Arsitek seakan-akan melaksanakan impiannya memperbaiki realita dan cenderung bersifat memaksakan.
Pragmatic :

  • Setiap bangunan didirikan untuk tujuan tertentu.
  • Tiap bangunan mempunyaiciri khasnya masing-masing.
  • Bangunan setujuan mempunyai kemiripan satu sama lain
Popular and Popularist:

  • Tidak terikat oleh aturan atau kaidah tertentu, tetapi mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
3 Deterministic form, fungtional /D.F.F :

  • Syarat utama dari bangunan adalah bangunan mencapai kegunaaan yang semaksimal mungkin.
  • Ruang – ruang yang direncanakan sesuai dengan fungsinya.
  • Bangunan tidak harus berdiri dari kepala, badan dan kaki.
Loose Fit :

  • Bentuk yang ditampilkan tidak sesuai dengan fungsi atau kehilangan kecocokannya dengan fungsi.
Semiotic Form :

  • Bentuk yang ada mempunyai tanda makna dan tujuan sehingga penampilannya sangat mudah dipahami.
4 Zeitgeist :

  • Berlatar balakang logika dan keilmuan.
Late – Capitalist :

  • Berlatar belakang efisiensi dan keuntungan.
Tradition and Choice :

  • Bentukan yang ada mengandung unsure-unsur atau nilai-nilai tradisi yang penerapannya secara terpilih, atau disesuaikan dengan maksud dan tujuan perancang.
5 Artist as Prophet/healer :

  • Arsitek mendudukkan diri sebagai yang maha tahu.
Suppressed Artist :

  • Arsitek merasa dibatasi / tertekan dan terpaksa untuk memunculkan kreatifitasnya.
Artist / Client :

  • Arsitektur mengandung dua hal pokok yang menjadi tuntutan perancang. Bersifat seni (intern) dan bersifat umum (ekstern) sehingga mudah dipahami.
6 Elitst / ‘for every man’ :

  • Arsitekturnya lebih menonjolkan sikap eksklusif perancangnya yang tumbuh dari keinginan bersama.
Elitist Profesional :

  • Arsitekturnya lebih menonjolkan sikap eksklusif perancangnya saja.
Elitist and Participative

  • Arsitekturnya lenih menonjolkan kebersamaan serta mengurangi sikap keangkuhan.
7 Wholistic, comprehensive redevelopment :

  • Adanya pemahaman yang menyeluruh dan saling mendukung antar elemen-elemen pembentuk arsitektur.
Wholistic :

  • Adanya kesatuan antar unsure-unsur pembentuknya.
Piecemeal :

  • Adanya penerapan unsur-unsur dasar seperti history, vernacular, lokasi, dll
8 Architect as savior/doctor :

  • arsitek menempatkan dirinya sebagai penyelamat/penyembuh dari segala permasalahan arsitektur dan yang mempunyai banyak gudang ide.
Architect provides service :

  • Arsitek menempatkan dirinya sebagai pelayan aau penerjemah ide
Architect as representative and activist :

  • Arsitek berfungsi sebagai wakil penerjemah ide kepada perencana dan secara aktif berperan serta dalam perancangan

Sumber : Charles Jencks – Vision of the Modern -UIA

Ditulis dalam teori arsitektur | 7 Komentar »

Hakikat (definisi) Tema dalam Arsitektur

Ditulis oleh calonarsitek di/pada Januari 17, 2008

Merancang dengan tema berarti mengusulkan salah satu kemungkinan perwujudan dari gagasan (Ir. Josef Prijotomo, M. Arch, dosen Arsitektur ITS)

Menurut Gunawan Tjahyono, “Tema dalam arti purbanya lebih merupakan pijakan bagi sebuah tajuk. Dari situlah kita yang terlibat dalam kehadirannya berangkat untuk melakukan bahasan, ulasan, dan tindakan (intelektual). Dengan demikian, tema melandaskan seluruh olahan berkarya dan tindakan intelektual atau seni. Dari contoh yang sama, dalam bidang arsitektur, tema dapat melandasi tindakan berarsitektur.” ( Kilas Jurnal FTUI, Januari 2000, volume 2 nomor 1, halaman 79 ) 

Skema pemahaman latar belakang tema dalam perancangan

Arsitektur adalah dunia yang tidak bisa dilepaskan dari tema, karena dengan tema itulah kehadirannya dapat lebih bermakna. Lebih daripada itu arsitektur adalah dunia yang di dalamnya terdapat semangat untuk teru mencari sesuatu yang baru dan semangat untuk mencari jawaban.” ( AMI – Arsitek Muda Indonesia, Penjelajahan 1990 – 1995, Subur, Jakarta, 1995 ). 

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, tema adalah :

§  Pokok pikiran, dasar cerita ( yang dipercakapkan ) dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak, dan lain – lain.

§  Bertema, berarti mempunyai tema.

§  Bertemakan, berarti berlandaskan tema. 

Tema berasal dari bahasa Yunani yaitu Tithenai yang berarti meletakkan, dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan Theme yang selanjutnya kita kenal dengan istilah tema yang memiliki arti apa yang diletakkan, dinyatakan dan memposisikan sesuatu.

Tema terbagi dalam 2 golongan besar, yaitu :

§  Dari unsur teraga, nyata (seperti tema tentang flora, tema hutan, tema fauna dan lain-lain).

§  Dari unsur tak teraga, abstrak (seperti tema kemanusiaan, tema budaya, dan lain-lain). 

Ditulis dalam prakata, teori arsitektur | Leave a Comment »